Selasa lalu 11 Agustus, aku dan Mas Wika menonton film The Last House. Sebelumnya kami sekilas memahami filmnya tentang apa dari trailer nya. Filmnya bercerita tentang suatu musibah di muka bumi yang bikin semua rumah terkunci, dan layaknya pembatasan social Ketika COVID, semua orang gak bisa kemana-mana. Tentunya ceritanya ga Cuma tentang itu, ada juga monster mengerikan yang siap menjadi klimaks cerita. Aku rasa filmnya bagus dan aku tidak terlalu memperhatikan plot hole nya, hanya ingin menikmati ceritanya. Kisah apik tentang kekuatan keluarga, kehangatan orang tua dan bonding orangtua dan anak. Sepanjang nonton ada beberapa teladan yang sepertinya perlu aku pelajari sebagai seorang istri: 1) Ketika tahu suaminya membeli senjata tanpa koordinasi dulu dengan isterinya, si istri langsung bertanya, “kenapa kamu melakukan itu?” Suaminya menjawab “karena beberapa malam aku bermimpi buruk dan di mimpi itu aku ga ngerasa aman.” Respon istri mendengar dalih dari suami ini sangat penting...
Salah satu alasan saya ingin masuk surga yang paling underrated adalah ingin bisa membaca buku bagus yang pernah diciptakan oleh semua penulis di dunia. Skeptis jika penulisnya terdampar di Jahanam; itu prerogatif Tuhan. Menghabiskan sore duduk minum pistachio latte sambil membaca buku pemenang Pulitzer Prize, dan sesekali ditampar semilir angin taman yang bentukannya mirip Keukenhof. Penduduk surga boleh minta apa aja kan? Di surga semua buku harus wangi buku, wangi yang bikin kutu buku dimabuk kepayang. Buku di sana juga harus bikin pembacanya berimajinasi dalam 4D, seolah ketika membacanya otak kita langsung membuat dimensi baru yang bisa dijelajahi secara real time. Di surga itu juga tersedia buku yang ketika di dunia dibredel, mungkin bukunya bernuansa kiri atau tentang kritik pada pemimpin yang sibuk terbakar di neraka. Buku yang hilang karena perang, akan kembali. Buku yang dibakar karena ketamakan, akan melimpah. Manuskrip yang tidak rampung karena penulisnya keburu ...